tokoh-suhaimi Temuan tujuh varietas padi unggul sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Namun, di masa pensiun, Suhaimi masih menempati rumah dinas karena memang belum mampu membeli rumah.

Memasuki usia 72 tahun dan pernah menderita stroke, tidak menghalangi Suhaimi Sulaiman untuk berbagi pengalamannya dengan Majalah Sains Indonesia. Pria kelahiran Margasari, Tapin, 25 Mei 1940 itu begitu antusias. Ingatannya masih sangat tajam ketika diajak berdiskusi mengenai berbagai varietas padi hasil temuannya.   

 Salah satu hasil karya yang cukup membanggakan menjelang masa pensiunnya adalah keberhasilannya mengawinkan padi lokal pasang surut jenis Siam Unus dengan padi unggul sawah irigasi yang berasal dari Jawa. Varietas yang dilepas Menteri Pertanian dan Kehutanan Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih MEc, pada 27 Oktober 2000 tersebut dikenal dengan varietas Margasari dan Martapura.

“Varietas Margasari dihasilkan dari penyilangan antara varietas lokal (Siam Unus) dan varietas unggulan baru jenis Cisokan. Sementara itu, persilangan Dodokan dan Siam Unus menghasilkan Martapura,” ungkap Suhaimi Sulaiman yang ditemui Majalah Sains Indonesia di rumahnya di Kompleks Perumahan Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Jl Siam Perak No 10 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, nama Margasari diambil dari tempat kelahirannya, sedangkan Martapura merupakan tempat ia bermukim. Varietas padi hasil temuannya tersebut memiliki berbagai keunggulan. Selain tingkat produktivitasnya lebih tinggi dari padi jenis Siam Unus, rasanya juga tidak jauh beda dengan Siam Unus. Beras Unus, bagi masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan, merupakan satu-satunya beras berkualitas tinggi dan sudah sejak lama menjadi primadona beras lokal masyarakat Banjar.

Bentuk biji varietas Margasari juga lebih ramping. Bukan itu saja, usia tanam hingga panen juga relatif pendek. “Jika varietas Siam Unus, masa tanam dan panennya delapan bulan dengan produksi 2,5 ton per hektare, varietas Margasari dan Martapura hanya berumur antara 120-125 hari dengan produktivitas mencapai 3,5 hingga 4 ton per hektare,” kata Suhaimi yang didampingi istri tercintanya, Rohayani.

Keunggulan lainnya adalah mampu beradaptasi  dengan kondisi cuaca dan alam, sehingga tidak mudah terserang penyakit. Dengan masa tanam dan panen yang lebih singkat, varietas Margasari dan Martapura itu dapat ditanam dua kali dalam setahun.

“Kalau varietas lokal hanya dapat ditanam dan panen sekali dalam setahun, varietas Margasari dan Martapura bisa ditanam dua kali dalam setahun. Harga jualnya juga lebih mahal sehingga menguntungkan petani,” kata doktor lulusan Universitas Padjadjaran Bandung itu.

Tidak Mudah
Untuk mendapatkan varietas unggul tersebut tidak mudah dan memerlukan waktu yang tidak sebentar. “Prosesnya memang lama. Selama empat tahun saya melakukan percobaan, mulai dari rumah kaca, rumah kawat, sampai di lahan yang sebenarnya,” ia menjelaskan.

Beberapa varietas pernah ia coba. Termasuk padi lahan irigasi yang didatangkan dari Jawa. Hasilnya, padi tersebut tidak cocok untuk lahan rawa, umur tanamnya cukup panjang, dan hasilnya hanya sekali setahun. Bukan itu saja, bibit padi irigasi rasanya lain dan tidak cocok di lidah orang Kalimantan Selatan.

Artikel selengkapnya bisa anda baca di Majalah SAINS Indonesia Edisi 05