flora fauna jeruk 03 Pada musim hujan, daun dan buah jeruk yang semestinya lebat atau padat justru tampak kerdil, meranggas, dan kehitaman, karena terserang hama.

Rasanya manis, sedikit asam, segar, dan tidak meninggalkan rasa pahit. Begitulah gambaran cita rasa jeruk keprok soe. Masyarakat menamainya jeruk soe karena tanaman ini berkembang di Soe, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Jeruk soe sempat populer pada 1980-1990. Namun, faktor perubahan iklim dan cuaca serta hama penyakit yang menyerang sejak 1998, menyebabkan tanaman jeruk soe perlahan mati dan punah.


Jeruk keprok soe mulai dikenal ketika apel soe menghilang pada 1980-an. Tak heran jika jeruk soe menjadi komoditas unggulan selain apel. Jeruk ini bahkan disebut-sebut sebagai keprok terbaik di Indonesia. Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Timor Teng-ah Utara menjadi sentra produksinya.


Secara fisik, jeruk soe mirip buah impor. Tekstur kulit buahnya halus, berwarna oranye kemerahan, mengkilap, berkulit tipis, dan mudah dikupas. Tinggi pohonnya dapat mencapai 2-4 meter. Tanaman ini mulai berbuah 2-3 tahun. Pada kurun 1995-2008, satu pohon jeruk mampu menghasilkan 500 kilogram.


Pemasaran jeruk soe hingga mencapai Timor Timur (Timor Leste), Kupang, Flores Timur, Manggarai, Bajawa, Maumere, Rote Ndao, dan Sabu Raijua melalui pedagang. Jeruk soe tidak kalah bersaing dengan jeruk dari luar NTT. Harga jeruk soe yang dijual di swalayan dan toko-toko di Kupang berkisar Rp 5.000- Rp 25.000 per kilogram.

Artikel selengkapnya bisa anda baca di Majalah SAINS Indonesia Edisi 10