BPTP, Alat Yang Ampuh untuk Transfer Teknologi

Created on Wednesday, 11 February 2015

Sekretaris Balitbangtan, Agung Hendriadi saat presentasi dihadapan peserta, Policy Dialogue on the Role of Technology Transfer in Agriculture for Sustainable Development Outcomes, di Bogor, baru-baru ini.

Bogor, Sains Indonesia - Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) menjadi perangkat yang ampuh dalam menstransfer inovasi teknologi pertanian yang dihasilkan peneliti kepada masyarakat petani. Beberapa negara bahkan menyatakan akan mengadopsi sistem tersebut. 

 

Bogor, Sains Indonesia - Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) menjadi perangkat yang ampuh dalam menstransfer inovasi teknologi pertanian yang dihasilkan peneliti kepada masyarakat petani. Beberapa negara bahkan menyatakan akan mengadopsi sistem tersebut.

Pemaparan Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Dr Agung Hendriadi dihadapan peserta dari 30 negara  yang mengikuti acara Third Satnet Policy Dialogue bertema, The Role of Technology Transfer in Agriculture for Sustainable Development Outcomes, yang berlangsung di Bogor (10/2) langsung mendapat tanggapan positif.

Salah satu negara yang mengakui keunggulan Indonesia dalam mentransfer teknologi adalah Nepal. Dia akan mencoba menerapkan model tersebut dan akan belajar banyak dari Indonesia. “Salah satu delegasi dari Nepal sangat merespons mengenai metode kita dalam mentransfer teknologi ke masyarakat petani. Harus diakui dengan adanya BPTP, maka hasil inovasi teknologi akan lebih mudah disampaikan kepada pengguna atau petani,” ungkap Agung Hendriadi kepada Majalah Sains Indonesia, baru-baru ini.

Dengan wilayah Indonesia yang sangat luas, BPTP memiliki peran yang sangat penting, terutama dalam mentransfer teknologi pertanian. “BPTP adalah delivery agent, menyampaikan teknologi pertanian yang dihasilkan Balitbangtan kepada para penyuluhnya di lapangan untuk selanjutnya diteruskan ke masyarakat pengguna atau petani. Nah, BPTP inilah yang tidak dimiliki negara lain. Karena itulah pengalaman ini perlu kita tularkan ke negara lain,” kata Agung.

Konsep kedua yang diperkenalkan Indonesia kepada para peserta adalah laboratorium lapang pertanian. Balitbangtan saat ini mempunyai 12 laboratorium lapang. “Di laboratorium lapang ini teknologi diterapkan bersama para peneliti, penyuluh, masyarakat, dan pemerintah daerah. Bahkan pada tahun 2015 ini, Balitbangtan dipercaya untuk membangun Agro Techno Park di setiap Provinsi di Indonesia,” jelas Agung.

Dua konsep itulah yang ditawarkan Balitbangtan kepada para peserta yang yang sebagian besar merupakan para petinggi dan penyuluh pertanian dari Asia dan Pasifik. “Kami juga berharap mendapatkan pengalaman dari negara lain yang telah berhasil menstransfer teknologi. Salah satunya adalah negara Thailand yang telah menggabungkan antara riset dan penyuluh menjadi satu kesatuan,” kata Agung.

Sekretaris Jendral Kementerian Pertanian, Hari Priyono mengakui transfer teknologi sangat penting terutama dalam rangka meningkatkan produktivitas pangan yang pada gilirannya akan meningkatkan produksi. Harus diakui, dalam kebutuhan pangan tidak hanya masalah kuantitas saja tetapi juga harus diperhatikan masalah kualitas, keamanan pangan, healthy food, dan sebagainya. Dengan tuntunan seperti itu, maka teknologi menjadi sangat penting.

“Melalui forum inilah diharapkan terjadi tukar menukar pengalaman dari berbagai negara anggota CAPSA untuk mendiskusikan tentang bagaimana akselerasi dalam rangka transfer teknologi,” jelas Hari Priyono. 

Demi efektivitas, tambahya, tentu diperlukan investasi jangka panjang dan pendekatan yang komprehensif dari pengembangan hingga ke penyuluhan. “Dalam pertemuan ini kita juga berharap menghasilkan opsi kebijakan nasional dan regional yang akan membantu untuk mengembangkan alih teknologi di bidang pertanian untuk hasil pembangunan berkelanjutan. Termasuk memberikan kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan pengembangan jaringan,” kata Hari Priyono.

Sementara itu, Direktur CAPSA-UNESCAP, Dr Katinka Weinberger mengatakan perundingan tentang agenda pembangunan pasca 2015 sedang bergerak ke tahap akhir, dan penerapan tujuan pembangunan berkelanjutan akan segera terjadi. “Ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi telah diakui sebagai sarana penting dalam pelaksanaannya,” kata Katinka.

Pertemuan dua hari ini diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) the Centre for Alleviation of Poverty through Sustainable Agriculture (CAPSA), lembaga regional yang berada di bawah United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP), dihadiri oleh para petinggi di bidang penelitian dan penyuluhan pertanian dari Asia dan Pasifik, perwakilan dari masyarakat, akademisi, sektor swasta serta organisasi internasional untuk mengetahui langkah-langkah yang diperlukan dalam mengembangkan dan memperkuat proses alih teknologi pertanian di tingkat nasional maupun regional.

Slamet Widayadi

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia