Prof Cordelia: Nanoteknologi Solusi Masalah Medis & Pangan Masa Depan

Created on Thursday, 22 September 2016
Tangerang, Sains Indonesia -- Seiring bertambahnya populasi manusia, ketersedian pangan dan bahan kesehatan menjadi persoalan rumt dan pelik di masa depan. Hadirnya nanoteknologi menjadi angin segar dan dapat diharapkan menjadi solusi atas berbagai masalah obat dan pangan di masa depan, kata Prof Cordelia Selomulya di Tangerang, Banten.

 

Berbicara sebagai narasumber seminar Insightful Talk on Food Business: Recent Advances in Food Technology di Universitas Prasetya Mulya Kampus BSD Tangerang, gurubesar teknik kimia Monash University Australia itu menjelaskan bahwa teknik spray drying telah cukup mapan dipakai dalam pengembangan industri pangan, terutama yang berbasis susu olahan (dairy food). Dengan pendekatan baru metode nano, emulsi susu sapi bisa dibuat lebih homogen dan halus. Ukuran droplet bisa menjadi lebih kecil sampai dimensi nano.  

Gurubesar teknik kimia pertama asal Indonesia di Monash University itu menjelaskan bahwa penggunaan nanoteknologi dalam dunia medis dan farmasi sudah mulai biasa digunakan. Salah satunya mengembangkan vaksin yang dikemas dalam nanokapsul sehingga mudah diserap dan terdistribusi dalam sistem faal tubuh. teknik nanokapsul juga dapat diterapan untuk pembuatan sediaan obat. 

''Dengan nanoteknologi, vaksin atau bahan bioaktif akan lebih efektif dan efisien berfungsi dalam tubuh. Dengan demikian lebih hemat juga,'' tegasnya kepada Majalah Sains Indonesia. 

Bagaimana prospek nanoteknologi untuk pangan? Peluangnya tentu tak jauh beda dengan sediaan farmasi dan medis. Hanya saja, tambah Cordelia, ''kita perlu lebih berhati-hati, Bukan apa, apa karena persoalan persepsi saja.''

Belajatr dari kasus pro-kontra masalah pangan transgenik (GMO), pemilik ratusan paper ilmiah dan dua paten nanoteknologi itu tak ingin ada persepsi yang salah dengan penggunaan nanoteknologi pada pangan. Subtansi dan nutrisi pangan hasil pengembangan nano akan tetap seperti nature-na, seperti bentuk alamiahnya. Hanya saja karakteristik fisiknya disesuaikan dengan standar kebutuhan industri.

Ke depan, Cordelia malah melihat ada kecenderungan industri baru yang membuat komoditas gabungan antara pangan dan herbal, Atau antara produk pangan dan produk kesehatan. Jadi fungsi pangan dan kesehatan melekat secara bersama-sama dalam satu produk nanoteknologi, tegasnya.

Dimoderatori Prof Dr Janson Naiborhu, Dekan Fakultas Sains, Teknologi, Engineering dan Matematika (STEM) Universitas Prasetya Mulya, seminar juga menghadirkan Prof Nicolas Georges, Direktur Food Innovation Center Monash University. Dia memaparkan antara lain trend pengembangan teknologi dan bisnis pangan masa depan.  Kolaborasi dan inovasi sangat dibutuhkan untuk pengembangan produk-produk pangan baru yang mempunyai keunggulan nutrisi, aman dikonsumsi dan mudah diakses masyarakat. 

Monash University beserta perangkat riset dan SDM di dalamnya punya kemampuan dan pengalaman untuk melakukan riset kolaborasi lintas disiplin ilmu dan lintas negara. "Australia dan Cina telah memiliki proyek riset bersama. Kami juga terbuka untuk kerjasama atau berkolaborasi dengan Indonesia," pungkas Nicolas.

Dedi Junaedi

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia