Indonesia Bangun Observatorium Terbesar di NTT

Created on Wednesday, 08 November 2017

Wilayah sekitar observatorium akan dikembangkan sebagai kawasan Taman Nasional Langit Gelap (National Dark Sky Park). Kawasan wisata khas untuk menikmati keindahan alam dan langit di malam hari

Jakarta, Sains Indonesia – Dalam waktu dekat, Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (Lapan) akan membangun observatorium di pegunungan Timau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Wahana pengamatan benda langit ini bahkan akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.

Untuk menyukseskan misinya, Lapan menggandeng sejumlah lembaga maupun institusi, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Nusa Cendana Kupang (Undana), Pemprov NTT, dan Pemkab Kupang. Kepala Bagian Humas Lapan, Ir Jasyanto MM kepada Majalah Sains Indonesia (7/11) mengatakan, pembangunan observatorium nasional (Obnas) tersebut ditargetkan selesai pada 2020.

“Pegunungan Timau ini sangat strategis untuk kegiatan pengamatan antariksa. Dari sana kita bisa melakukan pengamatan ke arah utara dan selatan. Maka pembangunan observatorium nasional ini cukup penting bagi Indonesia. Pertama, sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang keantariksaan. Kedua, menjadi salah satu agenda prioritas Presiden atau Nawa Cita, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa, antara lain melalui pemerataan pembangunan antar-wilayah, terutama Kawasan Timur,” papar Jasyanto.

Kepala Lapan, Prof Dr Thomas Djamaluddin mengungkapkan, nantinya observatorium di Timau tidak hanya berfungsi untuk penelitian, namun juga untuk pengembangan wilayah Timur Indonesia. “Lapan sudah memiliki konsep perencanaan jangka panjangnya. Lapan juga bersinergi dengan berbagai pihak untuk membangun kawasan wisata baru. Wilayah sekitar observatorium juga akan dikembangkan sebagai kawasan Taman Nasional Langit Gelap (National Dark Sky Park). Ini akan menjadi kawasan wisata khas yang menarik wisatawan, untuk menikmati keindahan alam dan langit di malam hari,” ungkapnya.

Keberadaan observatorim di Timau akan menjadi Obnas kedua yang dimiliki Indonesia. Sebelumnya Indonesia telah Observatorium Bosscha di Lembang. Namun dalam satu dekade terakhir ini, salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Asia Tenggara ini kurang maksimal fungsinya. Tingginya polusi cahaya kerap menghambat para peneliti dalam melakukan observasi.

Faris S Rusydi

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia