Program Kebijakan Satu Peta Akan Terus Berlanjut

Created on Friday, 16 March 2018

Jakarta, Sains Indonesia – Agustus mendatang, hasil integrasi Kebijakan Satu Peta (KSP) direncanakan sudah bisa diluncurkan. Badan Informasi Geospasial (BIG) optimistis, peta dasar skala 1:50.000 ini akan rampung tepat pada waktunya. Seiring dengan selesainya program KSP, sejumlah kalangan berpendapat bahwa tugas BIG sudah selesai dan sempurna. Namun opini ini tidak berlaku bagi segenap jajaran BIG, yang justru menilai bahwa semangat KSP akan terus berlanjut.

“Selesainya integrasi KSP ini bukan berarti semuanya sudah selesai. Tetapi bagaimana ke depannya kelanjutan dari KSP ini bisa kita jaga semangatnya. Kita perlu mengevaluasi kembali implementasi percepatan KSP ini. Maka kami di BIG melihat program KSP ini akan terus berjalan. Saya pastikan bahwa tanpa kebijakan maupun program pun, semangat satu peta ini harus terus berlangsung,” ungkap Kepala BIG, Hasanuddin Z Abidin di sela acara Pra Rakornas Informasi Geospasial 2018 di Jakarta (12/3).

Kepada Majalah Sains Indonesia, pria yang akrab disapa Hasan itu menilai, pekerjaan rumah BIG masih cukup banyak pasca rampungnya integrasi KSP skala 1:50.000. Menurutnya, Indonesia harus segera masuk ke dalam pemetaan skala-skala yang lebih besar. “Tuntutan saat ini di lapangan adalah skala 1:5.000. Peta skala detail ini sangat diharapkan, karena dapat digunakan untuk pemetaan desa, reforma agraria, dan lain sebagainya,” lanjut Hasan.

Tidak hanya skala 1:5.000 saja, kebutuhan peta skala 1:1.000 dan 1:2.500 juga kian mendesak. Untuk peta 1:1.000 misalnya, peta ini dapat membantu pembangunan di kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Sementara peta 1:2.500 bisa dimanfaatkan untuk keperluan restorasi gambut yang digalang Badan Restorasi Gambut (BIG), serta untuk mitigasi dan adaptasi bencana di level tapak.

“Peta-peta skala besar ini tuntutannya juga tinggi. Belum lagi jika nanti kita bicara tentang pemetaan 3D untuk smart city di kota-kota besar, juga tentang peta utilitas bawah tanah, peta lingkungan pantai, dan seterusnya. Maka peta skala 1:1.000 dan 1:5.000 adalah peogram yang harus segera dipercepat di masa mendatang,” tutur Hasan.

Dalam kesempatan serupa, Deputi Bidang Infrastruktur Informasi Geospasial, Adi Rusmanto mengatakan bahwa salah satu prioritas utama BIG pasca selesainya integrasi KSP skala 1:50.000 adalah percepatan penyelenggaraan peta rupabumi (RBI) skala 1:5.000. Ungkapnya, saat ini ketersediaan peta 1:5.000 sendiri masih berkisar di angka 3 persen. Artinya, masih ada 97 % lagi wilayah Indonesia yang perlu dipetakan dengan skala peta desa tersebut.

“Jadi KSP ke depan akan masuk ke skala-skala besar. Dalam hal ini, nantinya BIG tidak sendiri dalam membuat peta, tapi melibatkan masyarakat serta seluruh kementerian dan lembaga (K/L). Namun semuanya harus harus sesuai dengan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang dikeluarkan dan ditetapkan BIG. Kami berharap peta-peta skala besar ini bisa segera diwujudkan,” tandas Adi.

Faris Sabilar Rusydi

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia