Hingga 2045 Kementan Akan Kembangkan 20 Juta Ha Lahan Baru

Created on Monday, 16 April 2018
20 Juta hektare lahan kering dan lahan rawa yang terlantar akan disulap menjadi lahan produktif penghasil pangan. Balitbangtan menyiapkan dukungan teknologi termasuk manajemen air. 

Bogor, Sains Indonesia – Kementerian Pertanian menyiapkan 20 juta hektare lahan baru untuk pertanian pangan dalam kurun 20 tahun ke depan. Perluasan lahan menjadi keharusan mengingat jumlah penduduk terus bertambah dan diperkirakan pada 2045 nanti mencapai 325 juta jiwa.

Hal itu dikatakan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman usai memimpin Rapat Koordinasi Pengembangan Lahan Kering dan Rawa Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045, di Bogor, Jawa Barat, Senin (16/4). Menurut Menteri jika program ekstensifikasi pertanian tersebut berjalan dengan baik, produksi pangan nantinya bisa untuk memenuhi kebutuhan 500 juta jiwa bahkan lebih.

Kementerian Pertanian mencatat, tahun 2045 atau disaat Indonesia berusia 100 tahun, kebutuhan beras domestik saat itu diperkirakan mencapai 47,9 juta ton. Pemerintah sendiri memproyeksikan produksi 92,3 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara 57,9 juta ton beras. Namun jika skenario perluasan 20 juta ha lahan pertanian pangan tercapai, Menteri Amran optimis produksinya jauh bakal lebih besar lagi.

 

Lahan APL

Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP), Dedi Nursyamsi mengemukan, 20 juta ha lahan baru itu masing-masing 10 juta ha dari lahan rawa dan 10 juta ha dari lahan kering. Lahan tersebut merupakan lahan tidur atau terlantar yang statusnya APL (alokasi peruntukkan lain).

“Secara eksisting, lahan tersebut merupakan lahan pertanian, namun kondisinya terlantar. Sehingga kami tidak akan menyentuh lahan gambut ataupun kawasan hutan,” ujar Dedi.

Menurut Dedi, sejauh ini BBPPSLP telah mengidentifikasi luas lahan tidur berupa lahan kering dan lahan rawa. Dari hasil identifikasi tersebut, potensi lahan kering di Indonesia ada 24 juta hektare, dan lahan rawa yang potensi ada 15 juta hektare.
"Kita hanya fokus pada 20 juta ha saja dan akan kita bangunkan lahan itu, setelah dibuka kita dukung dengan berbagai teknologinya," katanya.
Beberapa teknologi yang akan digunakan seperti varietas unggul padi sesuai agroekologinya, maupun jagung yang digunakan, teknologi buidaya, penggunaan alat mesin pertanian, manajemen pengelolaan air, dan pendampingan.
 

Teknologi Zigzag

Dalam rakor tersebut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) memaparkan keberhasilan sejumlah teknologi yang sudah digunakan di area lahan pertanian rawa dan kering, seperti pola tanam jagung zigzag. Di Barito Kuala, Kalimanatan Selatan, menurut Dedi, produksi jagung dengan menggunakan teknologi ini mampu menghasilkan produksi 20 ton per ha.

“Teknologi ini memungkinkan populasinya mencapai 1,5 kali lipat dari metode konvensional. Namun hasil produksinya bisa mencapai tiga kali lipatnya,” ujar Profesor Riset bidang sumber daya lahan tersebut.
Menteri Amran pun mengapresiasi Balitbangtan yang menemukan pola tanam baru jagung dengan pola zigzag sehingga mampu memproduksi jagung 20 ton per hekatare.

“Dalam bulan ini, kami akan kembangkan teknologi ini pada 500 ha percontohan di Kalimantan Selatan dan Lampung. Nantinya akan ditambah lagi menjadi 1.000 ha,” ujar Amran.
Setia Lesmana

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia