Akhir 2018 Lahan Padi Bertambah 1 Juta Ha

Created on Monday, 16 April 2018

 

Pembangunan area baru pertanaman padi sudah berjalan. Akhir tahun ini ditargetkan rampung seluas satu juta hektare 

Bogor, Sains Indonesia – Saat ini Kementerian Pertanian sedang membangun lahan pertanian padi dengan memanfaatkan lahan rawa dan lahan kering. Hingga akhir tahun 2018 ini, luasnya mencapai satu jua hektare.

Hal itu disampaikan Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) Badan Litbang Pertanian, Dedi Nursyamsi usai mengikuti  Rapat Koordinasi Pengembangan Lahan Kering dan Rawa Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045, di Bogor, Jawa Barat, Senin (16/4).

Dedi menjelaskan, untuk lahan kering pihaknya memprioritaskan lahan-lahan yang dekat dengan sumber air permukaan baik sungai, danau, maupun embung. Di beberapa tempat pihak membangun dam parit dan mengalirkan sebagian air dari sungai ke parit untuk mengairi areal pertanaman padi.

Teknologi lain, lanjut Dedi adalah teknologi sadap air dengan cara melakukan sodetan sungai dan mengalirkan sebagian air melalui parit atau pipa ke area tanaman padi. Di beberapa lokasi digunakan teknologi hemat air dengan irigasi tetes untuk mengairi padi gogo, jagung ataupun kedelai. Untuk lahan rawa yang kelebihan air kita bangun water storage (penampungan air) yang bisa digunakan untuk mengairi lahan pangan disaat air surut.

“Semua teknologi tersebut bisa mampu meningkatkan indeks pertanaman (IP) dari setahun sekali menjadi dua kali atau bahkan di beberapa lokasi menjadi tiga kali tanam dalam setahun,” jelas Dedi.

Selain itu, produktivitas tanaman pun meningkat. Di lahan rawa dari semula produktivitas 1-2 ton per ha meningkat menjadi 4-5 ton per ha. Sedangkan di lahan kering dari dua ton per ha menjadi empat ton per ha atau dua kali lipatnya. Saat ini sekitar 40% area padi di lahan IPnya sudah 200 alias dua kali panen per tahun.

Sejumlah varietas unggul baik padi Inpara, Inpago, maupun varietas tahan masam dan amfibi digunakan untuk lahan rawa dan lahan kering. Sejumlah teknik budidaya seperti Largo Super (Larikan padi gogo), tenologi berimbang, penggunaan biodekomposir, dan sejumlah teknologi lainnya di perkenalkan kepada petani dengan pendampingan secara berlanjut.

 

Phospat Alam

Untuk komoditas jagung di lahan rawa, produktivitasnya juga meningkat dari dua ton per ha menjadi 3-4 ton per ha. Bahkan di Barito Kuala, lanjut Dedi, dengan teknologi tanam secara zigzag, produktivitasnya mencapai 20 ton per ha. Hal itu juga berkat penggunaan phospat alam yang tidak hanya mampu menaikkan kadar pH, namun juga meningkatkan kandungan fosfor (P), sekitar 1 ton per ha.

“Fosfat alam mengandung 30-40% kapur sehingga cocok untuk meningkatkan pH agar lahan tidak terlalu masam. Sekaligus meningkatkan kadar fosfor sehingga menghemat pupuk,” ujar Dedi.

Biasanya di lahan rawa dibutuhkan pemupukan lima kali per musim. Dengan menggunakan rock phospat (Fosfat alam), cukup sekali saja. Kadar P dan C (kalsium) yang terlalu rendah akan membuat tanaman cepat lapuk.

Setia Lesmana

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia