Kementan Luncurkan Gerakan Pengentasan Kemiskinan Berbasis Pertanian

Created on Monday, 16 April 2018
Setiap keluarga memelihara 50 ekor ayam kampung petelur, sehingga akan ada tambahan pendapatan Rp 2,2 juta per bulan. 

 

Bogor, Sains Indonesia – Kementerian Pertanian akan meluncurkan gerakan pengentasan kemiskinan di pedesaan melalui program pertanian terpadu skala rumah tangga. Hal itu disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman usai memimpin Rapat Koordinasi Pengembangan Lahan Kering dan Rawa Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045, di Bogor, Jawa Barat, Senin (16/4).

Menurut Amran, jumlah penduduk miskin di pedesaan sekitar 16 juta orang. Jika program ini berjalan baik, Amran optimis kemiskinan di pedesaan bakal turun drastis. Sebagai percontohan, rencananya Kementan akan melakukan kick off pada 23 April 2018 di Cianjur.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan program pengentasan kemiskinan berbasis pertanian tersebut dapat menjadi solusi permanen menyasar jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, serta menjangkau 1.000 desa di 100 kabupaten. Semuanya memanfaatkan lahan pekarangan yang dimiliki keluarga miskin di pedesaan.

“Untuk jangka pendek, tanaman sayuran dan holtikultura bisa menjadi solusi karena tiga bulan sudah bisa panen. Untuk jangka menengah kita berikan ayam dan kambing, karena ayam misalnya sudah bisa bertelur di enam bulan. Sementara untuk jangka panjang tanaman keras seperti mangga, salak dan lain-lain,” kata Amran.

 

50 Ekor Ayam pe KK

Secara khusus, Amran menargetkan setiap rumah tangga akan menerima bantuan berupa 50 ekor ayam. Artinya setiap hari, setiap keluarga bisa menghasilkan 50 butir telur atau memberi tambahan pendapatan sekitar Rp 2,2 juta per bulan.

“Kita buatkan kandangnya, langsung kita masukan ayamnya. Jadi mereka tinggal pelihara. Ada biayanya buat pakan selama enam bulan sampai bisa produktif,” ujar Amran.

Terkait konsep distribusi bantuan, Amran juga memperhatikan konsistensi antara perencanaan di tingkat nasional, tingkat provinsi, hingga tingkat kabupaten. Untuk itu, Kementerian Pertanian perlu memperhatikan agro-climate, kultur tanaman, serta keunggulan komparatif yang dimiliki oleh setiap daerah.

“Satu kawasan misalanya, disitu budaya tanam mangga, kita tanam satu kawasan untuk menopan satu skala industri. Manjadi klaster ekonomi yang fokus. Atau lampung misalnya punya keunggulan komparatif untuk komoditas nenas dan pisang. Fokus tanam sekitar wilayah sasaran tersebut harus terkait dengan komoditas unggulan tersebut,” jelas Amran.

 

Pendampingan Langsung

Untuk memastikan program tersebut bisa tepat sasaran, Kementerian Pertanian akan langsung turun ke lapangan untuk penerapannya. Berdasarkan datan Kementerian Sosial, sasaran program tersebut bahkan bisa menjangkau langsung ke sasaran, berdasarkan nama dan alamat. “Kita punya tim, kami yang langsung kawal. Datang di lapangan, melihat langsung. Ini 16 juta ada nama dan alamatnya,” tegas Amran.

Ada delapan wilayah yang menjadi fokus gerakan pengentasan kemiskinan berbasis pertanian ini, antara lain Beberapa Provinsi di Pulau Jawa, Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Provinsi Kalimantan Selelatan, dan Provinsi Lampung. Untuk itu, selain merangkul Pemerintah Daerah, Kementan juga bersinergi dengan Kemnesos, Kementerian BUMN, Kementerian Desa, Transmigrasi, dan Daerah Tertinggal,  BKKBN dan Kementerian/Lembaga terkait lainnya.

Setia Lesmana

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia