Menyambut Musim Kemarau

Pada awal April ini di beberapa daerah di Indonesia memasuki musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan, Nusa Tenggara Timur (NTT), NTB, dan Bali merupakan wilayah yang lebih dulu mengalami musim kering.

Cuaca dan Iklim Kian Ekstrem

Belakangan ini curah hujan kian tak menentu. Curah hujan yang tinggi bukan hanya menyebabkan banjir. Lebih dari itu cuaca ekstrem ini juga ikut berperan dalam melongsorkan tanah dan menimbun apa saja di bawahnya. 

Memahami Gempa

Selasa siang, 23 Januari 2018, gempa bumi menggoyang kawasan selatan Banten. Getaran gempa tektonik berkekuatan 6,4 SR tersebut juga terasa hingga ke Bogor, Jakarta, dan sekitarnya. 

6 Tahun MSI Menyapa Pembaca

 

Hadirnya Majalah Sains Indonesia (MSI) edisi Januari 2018 ini menandakan kami telah menyapa pembaca setia selama enam tahun. Sejak edisi pertama terbit, Januari 2012, suka dan duka mengiringi perjalanan kami menyuarakan berbagai inovasi karya anak bangsa.

Kami layak bersyukur dan bersuka ria, karena di tengah-tengah menurunnya daya baca dan daya beli masyarakat, majalah yang rutin terbit di setiap awal bulan ini tetap survive, meskipun dua tahun terakhir ini mengalami sedikit penurunan pembaca dan iklan.

Atas karunia Allah Yang Maha Pengasih, kami juga layak bersyukur masih diberi kesempatan untuk menyampaikan ilmu yang bermanfaat ke masyarakat luas. Obsesi kami sejak awal memang berorientasi pada penyebarluasan informasi sains, teknologi, dan inovasi yang bisa menjadi solusi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kami yakin, ketika inovasi diterapkan, akan mampu meningkatkan produk bernilai tambah (added value) tinggi sehingga mampu bersaing dengan buatan luar negeri. Menjadi bangsa produktif dengan karya inovasi anak bangsa adalah salah satu cita-cita kami. 

Kami prihatin, saat ini karya inovasi anak bangsa masih tertinggal jauh dalam banyak hal. Barang-barang importir masih dominan membanjiri pasar dalam negeri. Kita menjadi konsumen yang menggiurkan untuk produk-produk elektronik, otomotif, pangan, farmasi, dan kosmetik buatan asing.

Di balik rasa syukur tadi terselip duka dan waswas. Kami sedih saat melihat kecenderungan rekan-rekan kami yang tak lagi mampu bertahan. Padahal usia mereka jauh lebih mapan dan dikelola oleh para profesional yang kompeten di bidangnya.

Di kawasan Amerika Serikat dan Eropa misalnya, lebih dari 75 media cetak (baik majalah dan koran) tak lagi terbit. Bahkan, usia koran dan majalah mainstream tersebut mencapai puluhan bahkan ratusan tahun. Sebut saja Majalah Newsweek yang tutup usia pada umur 80 tahun. Lalu, koran The Rocky Mountain (153 tahun) dan  Seatle Post Intelligence (146 tahun). 

Kecenderungan serupa juga terjadi di Indonesia. Puluhan koran dan majalah nasional itu tak mampu melanjutkan usaha bisnisnya. Media cetak ini tak sanggup menghadapi serbuan media sosial dan media on-line berbasis internet yang begitu masif. 

Jika majalah yang sedang Anda baca ini bisa melewati masa-masa sulit, itu tak lain adalah berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Kontribusi pembaca dan relasi pemasang advertorial atau iklan juga ikut mewarnai perjalanan kami menuju tahun yang ketujuh ini.

Karena itu pada kesempatan yang mulia ini, kami memberi apresiasi tinggi sekaligus ucapan terima kasih kepada pembaca dan seluruh relasi yang telah ikut berkontribusi mendukung majalah ini. Dukungan, saran, masukan, dan kritikan kami  perlukan agar MSI dapat memenuhi harapan untuk para pembacanya.

Muhammad Budiman

Role Model Bagi Pengembangan Masyarakat Pesisir

Padukan Keunggulan Komparatif dan Kompetitif

 

Akhir Oktober lalu Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perindustrian membeberkan catatan menarik terkait peringkat 10 terbesar penyumbang devisa di Indonesia. Devisa negara menunjukkan kekuatan ekonominya. Makin besar devisa berarti kian banyak valuta asing (dolar) yang masuk negara sehingga ekonominya pun makin tajir.

Penyumbang devisa nomor wahid adalah hasil ekspor kelapa sawit sebesar Rp 239 triliun. Lalu disusul dengan jasa pariwisata (turis asing) Rp 190 triliun. Urutan berikutya ekspor: tekstil (Rp 159 triliun), Migas (Rp 170 triliun), batubara (Rp 150 triliun), jasa TKI (Rp 140 triliun), elektronik (Rp 80 triliun), hasil kayu hutan (Rp 70 triliun), karet (Rp 65 triliun), serta sepatu dan sandal (Rp 60 triliun).

Apa yang menarik dari data tersebut? Ternyata dari 10 jenis penyumbang terbesar tersebut, sebanyak tujuh disumbang oleh keunggulan komparatif (comparative advantage). Hanya tiga, yakni tekstil, elektronik, serta sepatu dan sandal yang mengandalkan keunggulan kompetitif.

Comparative advantage merupakan keunggulan yang dianugerahkan Sang Pencipta Alam Semesta dalam bentuk kekayaan sumber daya alam (perkebunan, hutan, Migas, batubara, keindahan alam, iklim, dan tanah subur). Kita dikaruniai perkebunan sawit terluas di dunia. Tak hanya itu, iklim tropis ikut memberi kontribusi positif bagi produktivitas sawit.

Kondisi ini jelas tidak dipunyai negara-negara maju di lintang tinggi. Selain mereka tak punya lahan kebun yang luas, iklim yang terdiri dari empat musim tak cocok bagi budidaya sawit. 

Karena itulah tak mengherankan jika produk crude palm oil (CPO) dari Indonesia merajai pasar dunia dan memberi pundi-pundi devisa yang sangat tinggi. Kondisi serupa juga terjadi pada karet. 

Tak banyak negara yang punya lahan luas dan iklim yang serasi untuk membudidayakan pohon karet. Hanya negara yang berada di lintang tropis lah yang sanggup menghasilkan getah karet secara efektif.

Perkebunan Indonesia memang memiliki keunggulan komparatif yang membanggakan. Namun kalau ditelisik lebih jauh, kita masih minim memadukan keunggulan komparatif tersebut dengan keunggulan kompetitif (competitive advantage).

Akibatnya, produk yang dihasilkan masih bernilai tambah (added value) rendah. Padahal potensi untuk menaikkan nilai tambah masih terbuka lebar. Pada produk CPO kelapa sawit misalnya, bisa ditingkatkan nilai tambahnya melalui industri hilir yang memproduksi antara lain mentega, farmasi, kecantikan, sabun, dan bahkan bahan bakar (bio fuell).

Produk-produk industri hilir ini lahir dari sentuhan inovasi sehingga memiliki keunggulan kompetitif dan bernilai tambah tinggi. Dengan begitu, produk tersebut dapat bersaing (kompetitif) di pasar.

Populasi penduduk Indonesia sekitar 250 juta orang merupakan potensi pasar lokal yang sangat menggairahkan. Rsanya tidaklah sulit jika produk-produk lokal kita nantinya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. 

Tak hanya menaikkan nilai tambah, tumbuhnya industri hilir juga mampu membuka lapangan kerja baru. Kondisi ini akan membuat perekonomian negara semakin kuat.  

Kita berharap, semua stake holder (pemerintah, pengusaha, periset, dan inovator) bergandengan tangan untuk menciptakan keunggulan kompetitif ini. Jika kedua keunggulan (komparatif dan kompetitif) ini dipadukan, niscaya devisa dan perekonomian bangsa makin kokoh.

Muhammad Budiman    

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia