Difteri dan Pro Kontra Vaksinasi

Created on Wednesday, 07 February 2018
Sejak wabah difteri ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa, isu akan pentingnya vaksinasi kian gencar disosialisasikan. Pro kontra vaksinasi pun kembali ramai.

 

Sejumlah wilayah Indonesia saat ini tengah dilanda wabah difteri. Status Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri pun sudah ditetapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terhadap penyakit menular ini. Kemenkes mencatat, sepanjang Desember 2017, ada lebih dari 600 laporan pasien difteri di 20 provinsi dengan enam orang di antaranya meninggal dunia.

Kemenkes kemudian mengeluarkan kebijakan imunisasi ulang bagi anak berusia 0-19 tahun untuk mencegah penyebaran lebih banyak. Namun langkah ini justru menuai pro kontra di masyarakat. Sebagian mendukung, namun tidak sedikit pula menolak. Sejumlah isu yang menjadi perdebatan antara lain tentang perlu tidaknya vaksinasi bagi anak, halal haramnya vaksin, serta kandungan vaksin itu sendiri. 

Pasangan Lina Najwatur (29) dan Adhi Hidayat (31) percaya bahwa sejatinya anak tidak membutuhkan vaksinasi difteri. Mereka begitu yakin setiap anak sudah memiliki kekebalan tubuh alami selama mendapat asupan makanan dan gizi yang baik. Kedua anak perempuan mereka, Amira (5) dan Falihah (8 bulan), tidak ada satupun yang divaksinasi.

“Kita sih nggak (vaksinasi), karena saya pikir setiap anak itu punya daya tahan tubuh sendiri. Kewajiban saya sebagai orang tua harus menjaga daya tahan tubuh anak setiap hari dengan asupan makanan yang baik, ditambah vitamin seperti propolis dan madu serta istirahat yang cukup,” jelas Lina kepada Majalah Sains Indonesia belum lama ini.

 

 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di

Majalah Sains Indonesia Edisi 74 Februari 2018

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia