Sagu, “Dewa Penyelamat” yang dibiarkan Tidur

Created on Saturday, 26 April 2014

Sepanjang 2013, Organisasi Pangan Dunia (FAO) menghitung tak kurang dari 925 juta orang masih menderita kelaparan di seluruh dunia.  Upaya mengurangi angka kelaparan dunia berjalan lambat karena minimnya lompatan besar dalam penyediaan pasokan pangan dunia.

 

Upaya percepatan penurunan angka kelaparan dunia sejatinya bisa dilakukan pada dekade ini juga.  Dan aktor paling potensial untuk menjadi “dewa penyelamat” itu tumbuh baik di Indonesia, khususnya di Tanah Papua, yaitu sagu (Metroxylon spp). Ibarat raksasa yang tertidur, potensi sagu yang sangat besar diyakini mampu menyelamatkan manusia dari bahaya kelaparan, seandainya dikelola dengan baik.

Hasil riset melalui citra satelit yang dilakukan Masyarakat Sagu Indonesia menunjukkan luas hutan sagu di Papua dan Papua Barat mencapai lima juta hektar. Menurut guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Bintoro, yang juga Ketua Masyarakat Sagu Indonesia, setiap satu juta hektar lahan sagu dihasilkan rata-rata 30 juta ton pati sagu. Dengan demikian, Papua mampu menghasilkan 150 juta ton pati sagu setiap tahunnya. “Itu sudah cukup memenuhi kebutuhan makan 1 milyar manusia,” tegas Bintoro.

Sagu merupakan tanaman penghasil karbohidrat tertinggi dibandingkan dengan tanaman budidaya penghasil karbohidrat lainnya. Sagu memiliki kandungan 94 gram karbohidrat dan kalori sebesar 353 kkal per 100 gram bahan, sedangkan beras mempunyai kandungan kalori sebesar 364 kkal per 100 gram bahan.

Bagian terpenting dari tanaman sagu adalah batang sagu karena merupakan tempat penyimpanan cadangan makanan (karbohidrat) yang dapat menghasilkan pati sagu. Tanaman ini masih tumbuh secara alami sehingga banyak tumbuhan ini berproduksi jauh di bawah kemampuannya bahkan dibiarkan mati tanpa sempat dipanen.

Gantikan Gandum

Tanaman sagu di Indonesia tersebar di Aceh, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, dan Papua. Papua merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang memiliki jumlah sagu terbanyak, lebih dari 50% sagu Indonesia.

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT, Listyani Wijayanti, mengatakan inovasi pengolahan sagu saat ini mampu menjadikan sagu pengganti gandum. Beberapa tahun terakhir, impor gandum menjadi salah satu pemicu utama tingginya inflasi. Pati sagu dapat digunakan untuk membuat roti, kue kering, biskuit, kerupuk, pempek, bakso dan mi, papar Listyani.

Artikel selengkapnya bisa Anda baca di Majalah Sains Indonesia Edisi 29


 

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia