Belajar dari Kerugian Uber. Keunggulan Kompetitif Kunci keberlanjutan dan Kesuksesan Bisnis Digital

Created on Thursday, 05 April 2018
Harga murah jasa layanan Uber bersifat semu, bukan dari keunggulan kompetitif yang dimilikinya.

 

Sebuah pesan pendek masuk ke email Majalah Sains Indonesia mengabarkan jika per 25 Maret 2018, perusahaan penyedia layanan transportasi berbasis aplikasi Uber di Asia Tenggara sudah beralih di bawah kepemilikan Grab, perusahaan transportasi online asal Malaysia. Sehingga sejak awal April pelanggan maupun mitra Uber harus beralih ke aplikasi Grab.

Dengan akuisisi tersebut, maka Uber sudah menjual kepemilikannya di tiga kawasan yang memiliki pangsa pasar besar. Sebelum Asia Tenggara, sebelumnya perusahaan asal New York Amerika Serikat itu sudah terlebih dahulu menyerah di China dan Rusia.

“Saya heran mengapa Uber bisa rugi, padahal secara sistem Uber paling bagus dibanding yang lain,” ujar Denny, salah driver Uber yang tinggal di Bogor.

Apa yang dialami Uber merupakan contoh tidak semua sistem perekonomian digital menguntungkan. Meskipun sistem dan teknologinya jauh lebih bagus dibanding para pesaingnya, namun jika pengelolaannya tidak tepat bisa berujung kegagalan.

Perusahaan yang beroperasi di lebih 600 kota, lebih 70 negara, memiliki 50 juta konsumen, dan sekitar tiga juta pengemudi itu sudah beberapa kali merugi. Pada semester I 2016 Uber menderita kerugian sebesar 1,27 miliar dollar AS atau sekitar Rp 16,8 triliun. Kerugian tersebut terjadi selama enam bulan dan trennya terus meningkat.  Menurut Kepala Keuangan Uber Gautam Gupta, kerugian secara global mayoritas disebabkan subsidi yang harus dibayarkan kepada pengemudi.

 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di

Majalah Sains Indonesia Edisi 76 April 2018

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia