Mewaspadai Krisis Digital di Era Revolusi Industri 4.0

Created on Thursday, 05 April 2018
Menyiapkan Sumber daya manusia terampil menghadapi era revolusi industri 4.0 wajib dilakukan agar tidak terjadi krisis digital di masa depan.

 

Tahun lalu saat selesai mengunjungi Australia, Majalah Sains Indonesia disuguhi layanan teknologi serba digital dan mandiri di Bandara Internasional Canberra, Australia. Mulai dari check-in, input data bagasi, pemeriksaan paspor, hingga memasukkan kopor bagasi dilakukan secara mandiri dan serba digital. Demikian juga saat memeriksa jadwal keberangkatan pesawat maupun informasi gate berapa untuk boarding semuanya harus dilihat sendiri di layar informasi di beberapa sudut Bandara, tanpa bantuan petugas.

Namun itu belum berlaku untuk terminal kedatangan baik di Bandara Canberra, Sydney maupun Melbourne. Mungkin kebijakan itu berlaku untuk alasan keamanan.

Saat ini era digitalisasi layanan publik juga sudah diterapkan di Terminal 4 Keberangkatan Bandara Changi, Singapura. Dunia saat ini sedang bergerak cepat menuju Revolusi Industri 4.0. Wawasan yang up to date dan inisiatif menjadi sangat penting bagi siapapun karena semua dilakukan secara mandiri tanpa bantuan petugas.

Dieter Spath dari Akademi Sains dan Teknologi Jerman menyamakan revolusi industri keempat (Industri 4.0) dengan revolusi industri pada abad ke-19 dalam hal dampak sosial ekonomi yang timbul pada masyarakat. Revolusi ini menjadi kelanjutan dari revolusi industri pertama dengan penemuan mesin uap. Revolusi industri kedua saat ditemukannya listrik dan revolusi industri ketiga ketika dimulainya pemanfaatan robot pengganti tenaga manusia.

Rantai mekanik tradisional dalam sistem produksi sedang diubah menjadi rantai digital. Pada tahun 2020, Lebih dari 50 miliar perangkat produksi akan terhubung ke internet.

Fase ini mencakup terus berkembangnya kecerdasan buatan, penggunaan robot, teknologi pesawat tanpa awak (drone), mobil yang dapat berjalan otomatis, hingga perkembangan bioteknologi. Era ini juga akan mendisrupsi berbagai aktivitas manusia, termasuk di dalamnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) serta pendidikan tinggi.

 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di

Majalah Sains Indonesia Edisi 76 April 2018

 

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia