Kapal Perang Buatan Indonesia Makin Berjaya

Created on Friday, 29 June 2012

hankam-01 Kemandirian industri pertahanan dalam negeri mulai bergaung. Kapal-kapal perang ini akan menjaga wilayah laut Indonesia, khususnya di perairan perbatasan.

Pemerintah serius dan konsisten memperkuat industri pertahanan di dalam negeri dengan berbagai langkah nyata. Selain dengan makin banyak alat utama sistem senjata (alutsista) yang dibeli dari perusahaan dalam negeri, juga terus dikonkritnya kinerja Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) menyiapkan rancangan (roadmap) pembangunan kapal perang.

Salah satu kapal perang canggih buatan dalam negeri yang sudah dioperasikan TNI AL adalah kapal cepat rudal (KCR) ukuran 40 meter. Dalam rencana strategis ini, Kementerian Pertahanan (Kemhan) menargetkan jumlah KCR hingga 2024 mencapai 44 unit. Per unit KCR menelan anggaran sekitar Rp74 miliar. Dana tersebut sudah termasuk kelengkapan alutsista berteknologi tinggi di dalam kapal.

Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro pada akhir Mei lalu seusai sidang pleno KKIP, di Surabaya mengatakan rapat membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Industri Pertahanan dan menyiapkan aturan-aturan turunan sebagai implementasi dari RUU tersebut. “Saat ini, kami fokus pada pembangunan alutsista, termasuk menyusun roadmap pembangunan kapal. Pembangunan kapal ini dilakukan secara bertahap,” ujarnya.

Dalam rapat ini ditekankan pada penyelesaian cetak biru (blue print) program nasional riset pertahanan dan keamanan. Blue print ini akan diajukan kepada Presiden pada 10 Agustus 2012 mendatang, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-17 di Bandung.
Nantinya, juga akan diadakan riset yang dilakukan Dewan Riset Nasional (DRN) untuk mendukung industri pertahanan. ”Keberadaan KKIP ini ingin mendorong kemandirian industri pertahanan dalam negeri,” tandas Menhan.

Sementara itu, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta menambahkan, pihaknya akan mengoptimalkan riset guna menunjang pengembangan teknologi, khususnya dalam hal alutsista. Riset ini penting untuk menciptakan produk-produk alutsista yang canggih. Sedapat mungkin, mayoritas komponen untuk memroduksi alutsista ini berasal dari dalam negeri. ”Kemudian alih teknologi sebisa mungkin akan kami percepat,” imbuhnya.

Menhan ketika meresmikan KCR 40 kedua produksi perusahaan galangan kapal swasta nasional di Batam, yaitu PT Palindo Marine Shipyard mengatakan kehadiran kapal ini menunjukkan sebagai salah satu bukti kebangkitan industri dalam negeri guna menuju kemandirian. Perhatian pemerintah saat ini sangat besar dalam mengupayakan pemberdayaan industri pertahanan nasional dalam mendukung pemenuhan alutsista TNI. Kapal pesanan kedua dari TNI AL ini diberi nama KRI Kujang 642.

Sedangkan KCR 40 pertama diresmikan Menhan pada April 2011 dan sudah memperkuat  jajaran Armada RI Kawasan Barat dengan nama KRI Clurit 641. Saat ini, PT Palindo Marine Shipyard sudah mulai menyiapkan KCR 40 ketiga dan direncanakan selesai pada bulan November 2012. Sedangkan KCR 40 keempat diperkirakan akan selesai pada tahun 2013.

Artikel selengkapnya bisa anda baca di Majalah SAINS Indonesia Edisi 07

       

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia