Mengapa Tikus di Sawah Semakin Banyak?

Created on Friday, 08 February 2013

Iptek-Remaja-1 Karena ular di sawah sudah habis diburu, tidak ada yang memakan tikus. Akibatnya, tikus berkembang biak dengan cepat.

Adik-adik dapat mulai mengasah kemampuan untuk menjadi peneliti sejak usia dini dengan memperhatikan lingkungan sekitar. Jika rasa ingin tahu adik-adik terhadap kejadian di sekeliling sangat besar, itu menjadi salah satu tanda bahwa minat sebagai peneliti sudah ada pada diri adik-adik. Banyak yang bisa jadi sasaran penelitian awal adik-adik.

Seperti kejadian yang terjadi satu pedesaan ini bisa menjadi objek latihan penelitian. Sudah lama di suatu desa mempunyai kebiasaan berburu ular di sawah yang berada di sekitar desa mereka. Beberapa waktu belakangan, petani di desa tersebut mengeluh karena hama tikus sawah menyerang dan menghabiskan tanaman padi mereka.

Ya…, tikus sawah merupakan hama utama tanaman padi dari golongan mamalia (binatang menyusui), yang mempunyai sifat-sifat yang sangat berbeda dibandingkan jenis hama utama padi lainnya. Oleh karena itu dalam pengendalian hama tikus ini, diperlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan cara penanganan hama padi dari kelompok serangga.

Adik-adik perlu tahu bahwa tikus sawah merupakan hama padi yang menimbulkan kerusakan dan kerugian besar pada tanaman padi di negara-negara Asia pada umumnya, termasuk Indonesia. Hal itu terjadi karena tikus sawah bunting selama 21 hari dan dapat kawin lagi 48 jam setelah melahirkan, sehingga selama satu musim tanaman padi dapat terjadi tiga kali kelahiran.

Artikel selengkapnya bisa anda baca di Majalah SAINS Indonesia Edisi 14

       

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia