Swasembada Garam

Created on Thursday, 04 July 2013

 

Indonesia yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia itu, sangatlah ironis jika tak sanggup memenuhi kebutuhan garam konsumsi untuk rakyatnya. Itulah yang terjadi sebelum tahun 2012: impor garam.

 

Kita patut memberi apresiasi kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan beserta seluruh petani garamnya. Bukan apa-apa, tercatat sejak tahun lalu bangsa Indonesia berhasil melakukan swasembada garam.

Pada 2012 produksi garam rakyat mencapai 2,1 juta ton. Pada saat yang sama, kebutuhan garam konsumsi diperkirakan 1,5 juta ton.  Jadi, kita mengalami surplus garam sekitar 600 ribu ton.

Angka yang dipaparkan Pelaksana Tugas Kepala Badan Litbang Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) Achmad Poernomo pada acara Talk Show bertajuk Iptek Masyarakat untuk Mendukung Usaha Garam Rakyat di Univeritas Hang Tuah Surabaya, 24 Juni 2013 ini cukup melegakan kita semua.

Indonesia yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia itu, sangatlah ironis jika tak sanggup memenuhi kebutuhan garam konsumsi untuk rakyatnya. Itulah yang terjadi sebelum tahun 2012: impor garam.

Keberhasilan swasembada ini menjadi catatan penting untuk melangkah lebih jauh, menuju swasembada garam untuk kebutuhan industri. Ini penting karena nilai tambah (added value) di produk hilir sangat tinggi.

Cita-cita ini rasanya tidaklah sulit. Apalagi selama ini para peneliti Balitbang KP telah mampu merekayasa alat pemurni garam sehingga meningkatkan produksi 2 ton per hari. Tak hanya itu, alat yang sudah dilengkapi_dengan iodisasi ini juga mampu memurnikan garam krosok (kandungan NaCl 88%) menjadi garam halus (94% NaCl).

Teknologi tersebut telah menjawab kebutuhan masyarakat. Langkah yang lebih strategis berikutnya adalah menguasai teknologi garam untuk kebutuhan industri. Hal ini penting karena unsur Magnesium (Mg) yang terikat dalam bittern (sisa-sisa air tua untuk membuat garam) memiliki nilai tambah yang tinggi, baik untuk industri farmasi, pangan, pakan, pupuk, manufaktur logam, dan lain-lain.

Sebagai perbandingan, di pasar harga Mg dibandrol sekitar Rp 20.000 per kg. Bandingkan dengan harga garam konsumsi yang bervariasi antara Rp 200 – 600 per kg. Padahal, selama ini unsur Mg terbuang begitu saja karena terikat secara kimia di bittern (limbah air tua di ladang garam) dengan kadar sekitar 7%.

Di industri farmasi, Mg ampuh mengobati sakit perut (mag). Mg juga menjadi unsur mikro bagi pupuk dan pakan ternak. Industri manufaktur berteknologi tinggi juga membutuhkan Mg. Sayangnya, sampai sejauh kita belum mampu mamproduksi Mg alias masih diimpor dari China, AS, India, Australia, dan lain-lain.

Karena itulah Kepala Pusat Litbang Sumber Laut dan Pesisir Dr Budi Sulistyo bertekad pada Agustus 2013 akan meluncurkan inovasi teknologi baru yang mampu memisahkan senyawa Mg dari bittern.

Dengan teknik kimia, pihaknya kini sudah mampu memurnikan Mg yang terikat di air tua. “Sampai saat ini, riset di laboratorium baru mampu memisahkan Mg dengan kadar 80%,” tambah Dr Hartanta Tarigan, peneliti yang terlibat dalam kajian tersebut.

Menurutnya, dalam 1 ton bittern dapat dihasilkan sekitar 70 kg Mg. Bisa dibayangkan triliunan rupiah sebenarnya dapat ditambang dari air tua yang selama ini kita abaikan.

Budiman

       

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia