Jeruk Siam Banjar

Created on Monday, 02 September 2013
 

Budidaya jeruk di  lahan rawa sudah lama dikenal masyarakat setempat, khususnya di Kalsel sejak ratusan tahun silam. Buah  jeruk siam dari lahan pasang surut mempunyai kualitas yang baik dengan rasa manis yang khas.

 

Jeruk siam (Citrus suhuensis) merupakan jenis jeruk yang berkembang pesat dalam sepuluh tahun terakhir ini. Jeruk siam mempunyai kesesuaian agroekologi yang cukup luas, termasuk cocok dibudidayakan di lahan rawa pasang surut. Penyebaran tanaman jeruk siam ini cukup luas sehingga untuk membedakan, sering digunakan nama tempat keberadaannya, antara lain dikenal jeruk pontianak (Kalimantan Barat/Kalbar), jeruk mamuju (Sulawesi Barat/Sulbar), jeruk batu (Malang, Jawa Timur/Jatim).

Di Kalsel sendiri dikenal jeruk madang (Barito Kuala) dan jeruk mahang (Hulu Sungai Tengah).  Jeruk siam yang berkembang di Kalsel telah dikukuhkan menjadi varietas unggul nasional dengan nama jeruk siam banjar. Pasar  jeruk siam dalam negeri sendiri cukup baik dan populer di petani karena produksinya paling tinggi di antara jenis jeruk lainnya, disukai konsumen, dan harga cukup baik.  Produksi jeruk di Indonesia tercatat mencapai 664.052 ton pada tahun 1999 meningkat menjadi 1.529.824 ton pada tahun 2003.

Kalsel sebagai salah satu wilayah pengembangan jeruk siam menunjukkan peningkatan produksi yang pesat dari 17.394 ton pada 1999 menjadi 75.787 ton pada tahun 2003 atau naik sebesar hampir 3,5 kali lipat. Peningkatan produksi ini sebagai akibat perluasan wilayah budidaya dari luas 144.791 hektar pada tahun 2000 menjadi 201.077 hektar pada tahun 2004.

Kabupaten Barito Kuala sebagai salah satu wilayah pengembangan jeruk siam mengalami perluasan mencapai 5.000 hektar pada tahun 2007 dan meningkat menjadi 7.000 hektar tahun 2011.  Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Barito Kuala (2012), sekarang luas pertanaman jeruk siam di lahan rawa Kalsel mencapai sekitar  11.000 hektar, di antaranya 75% berasal dari Kabupaten Barito Kuala, sisanya dari Kabupaten Banjar, Tapin, Kota Banjarbaru, dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Peningkatan luas areal pertanaman jeruk di lahan rawa ini dirangsang oleh  harga yang cukup baik dari komoditas ini. Namun, kualitas buah yang dihasilkan masih beragam, terlebih lagi apabila dibandingkan dengan kualitas jeruk impor, masih kalah bersaing, sehingga hal ini mempengaruhi besarnya penawaran.  Jeruk siam banjar mempunyai beberapa keunggulan, antara lain rasa manisnya yang khas dan jarang kapau (serat isi buah tebal dan kering). Jeruk siam banjar terpilih sebagai pemenang juara II dalam Kontes Perlombaan Jeruk Nasional pada  tahun 2011 di Telekung, Jatim. Pemenang Juara I direbut jeruk siam batu dari Malang.

Artikel selengkapnya bisa anda baca di Majalah SAINS Indonesia Edisi 21

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia