Korps Zeni TNI AD: yang “Pandai” dan Tertua

Created on Tuesday, 04 February 2014
Mereka adalah korps "pandai" yang dituntut untuk memberikan berbagai solusi teknis di medan pertempuran.

 

Dalam suatu pertempuran, ada satuan yang tugasnya membangun jembatan agar tank dan meriam artileri bisa lewat, di lain pihak satuan ini juga bisa bertugas menghancurkan jembatan untuk menghambat laju gerak pasukan lawan. Ada juga tugas pembersihan ranjau agar satuan infanteri bisa bergerak maju, namun juga sebaliknya yaitu memasang ranjau guna menghambat gerak satuan infanteri musuh. Ada tambahan tugas lain seperti tugas menjinakkan bahan peledak serta penanganan dampak perang nuklir, biologi, dan kimia.

Kesemuanya ini dilaksanakan satuan zeni yang ada di TNI AD maupun di Korps Marinir TNI AL. Kata “zeni” berasal dari bahasa Belanda “genie”, yang artinya “pandai” atau “banyak akal”. Oleh sebab itu orang pandai kerap dijuluki “genius”. Membawa moto sebagai korps “pandai” memang tidak mudah. Mereka harus bisa memberikan berbagai solusi teknis di medan pertempuran. Mereka harus bisa terus berimprovisasi, bergerak secara insidentil dan bekerja sesuai standar-standar teknis guna memberikan bantuan tempur terhadap gerak maju satuan infanteri.

Memang Korps Zeni itu ”pandai” dan ”banyak akal”.  Tercatat dalam sejarah Perang Dunia II berbagai karya Korps Zeni dalam memenangkan Sekutu di Perang Raya ini.  Begitu diputuskan bahwa lokasi pendaratan pasukan Sekutu di daratan Eropa adalah di Pantai Normandia, Perancis maka Korps Zeni Kerajaan Inggris segera membangun Dermaga Apung ”Mulberry” yang dibangun di Inggris, kemudian ditarik ke Pantai Normandia dengan kecepatan 5 kilometer/jam.  Setibanya di Normandia, kemudian ditenggelamkan menjadi sebuah dermaga, siap dioperasikan hanya 3 hari setelah Hari-H Pendaratan Normandia, yaitu pada 9 Juni 1944.

Guna memenangkan perang di Eropa de-ngan target akhir 1944 maka dirancang “Operation Market Garden”, suatu kombinasi operasi lintas udara dengan menerjunkan 21.000 pasukan para dan serbuan Divisi Tank Sekutu yang menerobos dari Belgia menuju Belanda dekat perbatasan Jerman.

Tiga jembatan harus dipertahankan Sekutu pada rentang 42 Km agar Divisi Tank bisa lewat.  Ini semua adalah tugas satuan zeni.  Sayang, dua dari tiga jembatan berhasil dikuasai, namun di jembatan terakhir, dekat Kota Arnheim, Belanda, jembatan tidak berhasil direbut Sekutu dari Pasukan Jerman.  ”Operation Market Garden”  gagal total, ”A Bridge Too Far”.

Lain lagi di Perang Pasifik.  Panglima Sekutu, Jenderal Mac Arthur  yang terkenal dengan strategi ”Island Hoping” atau “lompat katak” memutuskan untuk memindahkan markasnya dari Sentani, Papua ke Pulau Morotai, Maluku Utara, guna semakin mendekatkan pasukannya ke Filipina, Mariana, Iwojima, Yokohama dan Tokyo.

Artikel selengkapnya bisa Anda baca di Majalah SAINS Indonesia Edisi 26

       

Copyright 2012. Majalah SAINS Indonesia