Macam-Macam Rumah Adat Papua + Manfaat dan Kegunaannya

Papua adalah wilayah paling timur Indonesia yang terkenal dengan keindahan alamnya. Namun, kali ini kita tidak akan membicarakan keindahan Raja Ampat atau samudra birunya melainkan tentang keunikan rumah adat Papua beserta fungsinya.

Papua memiliki beragam suku asli, membuat daerah ini memiliki berbagai bentuk rumah adat. Selain rumah adat Honai, masih banyak rumah adat lainnya yang tak kalah unik dengan Papua.

Macam-macam Rumah Adat Papua

Penasaran seperti apa keunikan rumah adat provinsi Papua? Mari kita lihat rangkumannya di bawah ini.

Rumah Pohon

Rumah Pohon

Berbeda dengan suku asli lainnya, suku asli pedalaman Papua yaitu suku Korowai, memilih membangun rumah pohon tradisional yang lebih dikenal dengan rumah pohon.

Terletak di ketinggian 15 hingga 50 meter, rumah ini bertujuan untuk mencegah binatang buas dan gangguan dari roh jahat yang disebut Laleo. Laleo adalah makhluk jahat atau iblis ganas yang menyerupai mayat yang berkeliaran di malam hari.

Rumah Rumsram

Rumah Rumsram

Rumah Adat Rumsram adalah rumah adat di pesisir utara Papua milik suku Biak Numfor. Seperti rumah Kariwari, rumah ini bukanlah tempat tinggal, melainkan tempat khusus bagi keduanya untuk menuntut ilmu.

Bangunannya berbentuk persegi panjang dengan atap berbentuk kapal terbalik. Hal ini dimaksudkan untuk melambangkan mata pencaharian masyarakat setempat yang mayoritas berprofesi sebagai pelaut.

Rumah yang tingginya mencapai 6-8 meter ini terbuat dari bambu air, pelepah sagu, kulit pohon sagu dan daun-daunan.

Rumah Wamai

Rumah Wamai

Ketika membahas suku Dani benar-benar diskusi yang tidak pernah berakhir. Selain rumah khusus laki-laki dan perempuan, kali ini mereka memiliki rumah ternak khusus yang disebut rumah Wamai.

Di rumah ini biasanya terdapat hewan ternak seperti ayam, kambing, babi dan anjing. Namun tidak seperti bangunan tempat tinggal lainnya.

Rumah Wamai lebih fleksibel dimulai dengan lingkaran atau persegi panjang. Hal ini disesuaikan dengan jumlah hewan yang akan masuk.

Rumah Ebei

Rumah tradisional Ebei adalah kebalikan dari rumah Honai karena dibuat khusus untuk wanita suku Dani. Anak laki-laki hanya bisa tinggal di sini cukup lama untuk tumbuh menjadi pria dewasa yang siap pindah ke rumah Honai.

Ebei berarti badan yang memiliki filosofi menjadi badan kehidupan bagi semua orang sebelum lahir di dunia. Oleh karena itu rumah Ebei adalah tempat belajar bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik bagi wanita yang akan beranjak dewasa dan siap menikah.

Di rumah ini juga mereka akan belajar banyak kegiatan seperti memasak, menjahit, menyulam dan masih banyak kegiatan lainnya. Bentuk Rumah Ebei ini punya bentuk yang mirip dengan rumah Honai dengan bentuk lingkaran.

Arti dari dua rumah ini adalah kesatuan dan satu hati dalam satu pemikiran. Rumah adat ini juga merupakan simbol martabat bagi suku Dani.

Rumah Hunila

Rumah tradisional suku Dani lainnya adalah rumah Hunila. Bangunan ini memiliki bentuk memanjang dan lebih lebar dari rumah adat lainnya. Rumah adat ini banyak digunakan untuk menyimpan berbagai peralatan dapur dan bahan makanan.

Biasanya, rumah Hunila menjadi dapur umum antara berbagai rumah Honai dan Ebei untuk menghasilkan makanan bagi seluruh rumah.

Bahan makanan yang biasa mereka proses adalah sagu dan ubi jalar yang kemudian nantinya akan diberikan ke keluarga masing-masing.

Rumah Kariwari

Rumah Kariwari

Kariwari adalah rumah adat Papua yang dihuni oleh suku Tobati-Enggros. Rumah adat ini memiliki atap segi delapan setinggi tiga lantai dan dipercaya dapat melindungi rumah dari hawa dingin, terutama angin kencang.

Lantai satu berfungsi sebagai tempat melatih para remaja agar siap menjadi pria dewasa, bertanggung jawab, cakap, dan kuat.

Lantai dua berfungsi sebagai tempat pertemuan para pemimpin adat untuk membahas isu-isu penting. Sedangkan lantai tiga, khusus tempat berdoa kepada Tuhan dan leluhurnya.

Selain itu, bentuk atap rumah Kariwari juga melambangkan kedekatan dengan Sang Pencipta atau dengan para leluhur.

Tak heran, rumah Kariwari sering menjadi tempat pendidikan dan ibadah. Rumah adat ini terbuat dari kayu ulin, daun sagu, bambu dan pohon lainnya.

Rumah Honai

Rumah Honai

Rumah adat Papua yang paling sering muncul di buku pelajaran adalah rumah Honai yang dihuni oleh suku Dani.

Dinding bangunan ini berbentuk lingkaran, terbuat dari kayu solid dan disusun secara paralel. Biasanya rumah Honai dilengkapi dengan pintu tunggal tanpa jendela dengan tinggi 2,5 meter dan lebar 5 meter.

Atap rumah Honai terbuat dari tumpukan daun sagu, jerami, dan ilalang membentuk kerucut. Hal ini untuk menjaga agar rumah tetap hangat dan mencegah air hujan jatuh langsung ke dalam rumah.

Seperti namanya Honai memiliki arti khusus yaitu Hun berarti laki-laki dan ai berarti rumah. Maka tak heran jika rumah ini dikhususkan untuk kaum pria, terutama orang dewasa.

Rumah ini kosong tanpa perabotan. Ketika para tamu tiba, mereka duduk di lantai jerami bersama tuan rumah. Ini adalah bentuk persatuan dan kekerabatan masyarakat Papua.

Selain itu, rumah mungil ini dapat menampung 5-6 orang. Biasanya rumah ini terletak di pegunungan dingin Papua. Semakin sempit mereka dan semakin banyak orang yang tinggal di rumah, semakin baik perlindungan terhadap dingin.

Untuk menambah kehangatan, setiap rumah juga memiliki api unggun yang menyala.

Rumah Jew

Mungkin diantara kamu ada yang sering mendengar tentang suku Asmat.

Suku ini memiliki banyak sekali anggotanya sehingga rumah adat suku ini bisa disebut dengan rumah Jew dengan bentuk yang besar dengan ukuran panjang 15 meter dan lebar 10 meter.

Biasanya rumah adat ini menggunakan akar rotan pilihan untuk menyambung kayu untuk pondasi rumah.

Rumah tradisional ini juga dikenal sebagai rumah bujangan karena hanya bisa ditempati oleh pria lajang. Anak-anak di bawah 10 tahun dan perempuan tidak diperbolehkan.

Nah, rumah tradisional Yahudi akan menjadi tempat bagi para jomblo untuk belajar dari orang yang lebih tua atau pria yang sudah menikah. Mereka biasanya berlatih keterampilan dan pendidikan, seperti menari, dan membuat musik.

Tidak hanya itu, rumah adat ini juga menjadi tempat diskusi tentang kehidupan suku, upacara adat, perselisihan dan masih banyak lagi.

Rumah Kaki Seribu

Rumah Kaki Seribu

Rumah kaki seribu atau yang juga dikenal dengan Mod Aki Aksa merupakan rumah adat suku Arfak di Papua Barat.

Bangunan ini memiliki begitu banyak pilar sehingga terlihat seperti kelabang. Sepintas tampak seperti rumah panggung, namun rumah adat ini tidak memiliki cukup ruang di bawahnya.

Rumah adat Kaki Seribu ini terbuat dari kayu yang disilangkan secara vertikal. Sementara horizontal, kayu bergabung. Atap bangunannya terbuat dari jerami dan lantai rumahnya dianyam rotan.

Struktur Rumah Adat Papua

Rumah adat Papua biasanya terbuat dari bahan alami seperti kayu, dinding anyaman dan atap jerami. Bahan ini merupakan bahan yang ramah lingkungan.

Bentuk penutup penutup dimaksudkan untuk melindungi permukaan dinding dari kelembaban akibat hujan. Selain itu, bentuk atap membantu menstabilkan suhu di dalam rumah. Karena pada malam hari suhu di kawasan tersebut bisa sangat dingin, mencapai 10-15 C.

Tidak seperti rumah pada umumnya, Hanoi secara khusus hanya memiliki satu ruangan dengan perapian di tengah ruangan sebagai tempat berkumpul untuk menghangatkan diri.

Ada dua tingkat ke rumah Honai. Lantai pertama digunakan untuk menjamu tamu, sedangkan lantai dua digunakan untuk tidur.

Fungsi Rumah Adat Papua

Rumah adat Papua ini berfungsi sebagai tempat tinggal, baik itu untuk berteduh ataupun tempat untuk beristirahat sama seperti pada umumnya.

Namun yang membuatnya berbeda adalah beberapa rumah ada yang digunakan sebagai tempat ternak, tempat penyimpanan hasil panen, dan tempat pengasapan.

Sebagian besar rumah Honai, dihuni oleh laki-laki. Rumah jenis ini di Hanoi juga berfungsi sebagai gudang peralatan perang dan berburu.

Laki-laki dewasa mengajari anak-anak muda cara untuk melindungi suku mereka. Ini merupakan warisan budaya untuk melestarikan keberadaan suku asli Papua.

Rumah tradisional satu kamar ini juga berfungsi untuk menyatukan seluruh penghuninya. Dengan harapan supaya para penghuni rumah bisa berkumpul untuk berdiskusi dan memiliki tujuan.

Juga, rumah adat Papua melambangkan kepribadian, martabat atau harga diri dari suku asli Papua. Pelestarian budaya ini harus dipertahankan kepada anak cucu mereka sejak saat itu.

Nah, itulah berbagai rumah adat Papua beserta keunikannya untuk menambah pengetahuan daerah yang kaya akan keindahan alam ini.

Jangan lupa baca juga pembahasan yang lainnya seperti :